
Judul diatas tentu terdengar lucu, atau bahkan dianggap sebagai sebuah pembodohan yang tidak berdasar khususnya bagi kaum bumi bulat, terutama pada bagian kalimat matahari mengelilingi bumi.
Istilah pembodohan ini yang sering kami dengar ketika membahas permasalahan bumi datar di hadapan kaum bumi bulat. Ada satu ayat yang mungkin mereka akan menangkapnya dengan salah paham yakni :
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّۖ يُكَوِّرُ ٱلَّيْلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيْلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۗ أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّٰرُ
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutup malam atas siang dan menutup siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun. (Az-Zumar 39:5)
Pada ayat diatas menurut kami ada kesalahpahaman – kalau tidak mau dikatakan sebagai suatu kesalahan – kami mempunyai interpretasi lain terhadap makna يكور. Bagi kami “yukawwiru” bukan diartikan “bulat” melainkan “menggulung atau melilit”, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Hazm,rahimahullah yang mengatakan :
وَهَذَا أوضح بَيَان فِي تكوير بَعْضهَا على بعض مَأْخُوذ من كور الْعِمَامَة
“Ayat ini adalah penjelasan yang paling terang bahwa siang dan malam digulung. Diambil dari kata yang semakna, yaitu: Menggulung sorban, artinya menggulung dengan cara diputar.” [Al-Fashl fil Milal wal Ahwa wan Nihal, 2/78]
Ibnu hazm adalah salah satu ulamak yang menganggap bumi itu bulat yakni ketika menafsirkan az-zumar ayat 5 diatas. Beliau mengambil kesimpulan bahwa “yukawwiru” artinya adalah menggulung layaknya menggulung sorban di atas kepala, dengan cara diputar.
Sesuatu yang digulung pasti ada yang menggulung. Adapun yang menggulung adalah matahari dan bulan, sedangkan yang digulung adalah bumi. Sebagaimana menggulung imamah (sorban di atas kepala), karena kepala itu bentuknya bulat, maka bumi bentuknya juga bulat. Inilah kesimpulan yang mereka dapat dari lafadz yukawwiru bahwa bumi bentuknya bulat karena kepala bentuknya bulat.
Akan tetapi menurut al faqir, ada satu hal yang menjadi kesalahpahaman dikalangan bumi bulat ketika menangkap pernyataan ibnu hazm di atas, mereka berpikir bumi bentuknya bulat karena istilah “yukawwiru” artinya adalah bulat.
Padahal seperti yang dikatakan oleh ibnu hazm sendiri diatas, yukawwiru artinya menggulung layaknya menggulung sorban diatas kepala dengan cara diputar, ibnu hazm tidak mengatakan yukawwiru secara bahasa adalah bulat.
Kalau kita telusuri lebih lanjut lafadz يكور berasal dari fiil madhi كار-كورا atau dari fiil mazid كور yang artinya melilit, (kamus al munawir edisi kedua, halaman 1238)
Sedangkan penggunaan istilah bumi bulat dalam bahasa arab berasal dari lafadz “al kuratu” (jamak kurri wa kuraatun)
الكرة (ج. كري و كرات)
Yang artinya segala benda yang berbentuk bulat seperti bumi dan lain sebagainya, dari fi’il madhi dan masdar، karaa karwan.
كرا – كروا
(Kamus al munawir edisi kedua halaman 1205)
Jadi lafadz “yukawwiru” يكور (menggulung/melilit) bukan berasal dari “kuratun” كرة (bulat). Akan tetapi berasal dari كار- كورا yang artinya menggulung bukan bulat sebagaimana “kuratun” yang berasal dari lafadz asal كار- كروا. Karena ada perbedaan penggunaan bahasa antara كار-كورا dan كار-كروا .
Inilah yang kemudian menjadi sebuah kesalahpahaman ketika menangkap pernyataan ibnu hazm di atas, padahal apa yang mereka nilai tidaklah sesuai dengan lafadz arab yang sebenarnya.
Setelah kita memahami makna lafadz tersebut dari segi bahasa, sekarang kita akan beranjak pada pembahasan benarkah matahari dan bulan mengililingi bumi karena lafadz “yukawwiru”?.
Sebagaimana pada ayat diatas, yakni pada potongan ayat :
….يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ….
“Allah menggulung malam ke dalam siang dan menggulung siang ke dalam malam.” (Az-Zumar: 5)
Sebelum kita menyimpulkan ayat ini kita harus pahami dulu makna dari siang dan malam. Adanya siang disimbolkan oleh matahari sedangkan malam disimbolkan oleh bulan. Sebagaimana pada potongan ayat selanjutnya
…وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۗ…
“dan menundukkan matahari dan bulan, masing masing berjalan menurut waktu yang ditentukan” (Az-Zumar:5)
Perhatikan pada penggalan ayat ini, yang “yajri” (berjalan) apakah bumi atau matahari beserta bulan?.
Sudah jelas dan tegas bahwa ayat tersebut hanya menyebutkan matahari dan bulan yang berjalan, dan berjalannya adalah dengan “yukawwiru” (mengelillingi) bumi. Dan bumi tentu saja tidak berotasi melainkan diam dan tidak bergerak.
Jika masih ragu kita bisa membuka ayat lain yang berkenaan dengan permasalahan tersebut yakni :
وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Al-Anbiya 21:33)
لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Ya Sin 36:40)
وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ دَآئِبَيْنِۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ
“Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu.” (Ibrahim 14:33)
ٱللَّهُ ٱلَّذِى رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَاۖ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۚ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
“Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.” (Ar-Ra’d 13:2)
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, ”Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran). (Al-‘Ankabut 29:61)
أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Luqman 31:29)
يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۧ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (Fathir 35:13)
وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَاۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Ya Sin 36:38)
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّۖ يُكَوِّرُ ٱلَّيْلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيْلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۗ أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّٰرُ
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.” (Az-Zumar 39:5)
ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,” (Ar-Rahman 55:5)
Mari kita lihat, adakah ayat diatas yang mengatakan bumi itu beredar dalam garis edarnya?.
Silahkan Anda cari dalam al-quran mulai dari juz pertama sampai juz terakhir, kami pastikan Anda tidak akan menemukan lafadz yang mengatakan bumi bergerak atau berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari.
Semua ayat dalam al quran menyatakan bahwa matahari dan bulanlah yang bergerak dan mengelilingi bumi bukan sebaliknya.
Sekali lagi, al faqir menyarankan bagi Anda khususnya bagi yang mengimani al qur’an sebagai kitab sucinya, Anda amati dan resapi apa yang al-quran katakan. Adakah ayat yang mengatakan bahwa bumi itu bergerak (تجر) ?.
Saya pastikan tidak ada.
Jadi begitulah sebetulnya al-quran menjelaskan pada kita bagaimana fenomena alam ini bekerja sesuai dengan sunnahtullah-Nya seperti yang termaktub dalam al qur’an.
Pada faktanya setelah al faqir mengkaji bumi datar, yakni di saat awal-awal mengenal teori ini, ternyata apa yang tertuang dalam konsep bumi datar, sudah lama dijelaskan di dalam al qur’an, bahwasanya bumi diam dan tidak bergerak.
Adapun pelajaran yang selama ini kita peroleh waktu belajar di sekolah dulu, tentu sangat bertentangan dengan apa yang terangkum di dalam al quran. Al quran menyatakan bahwa bumi diam, dan matahari serta bulanlah yang mengelilingi bumi, bukan bumi yang mengelilingi matahari akan tetapi sebaliknya.
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada Anda, bahwa ayat ini (az zumar ayat 5) memang bukan menceritakan soal bentuk bumi apakah bulat atau datar, melainkan menceritakan pada kita tentang kedudukan matahari dan bulan terhadap bumi.
Karena dari asal katanya saja, “yukawwiru” artinya menggulung layaknya menggulung sorban, dengan cara diputar. Jadi bukan bentuk sesuatunya yang dipermasalahkan melainkan pemahaman tentang proses “yukawwiru” nya yang dijelaskan.
(wallahualam)
By acit