MALAM LAILATUL QADAR DALAM PANDANGAN BUMI DATAR

Ramadhan menjadi bulan mulia bukan karena kemuliaan orang berpuasa, dan bukan pula karena kemuliaan malam lailatul qadar yang ada padanya, akan tetapi bulan ramadhan dan malam lailatul qadar menjadi mulia karena pada hari itu Allah menurunkan al qur’an. Allah swt berfirman :

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” (Al-Qadr 97:1)

Diturunkannya al quran di malam lailatul qadar menjadi penyebab bulan Ramdhan tersebut mulia. Karena dari mulianya bulan itu, Allah mewajibkan bagi hamba-Nya yang beriman untuk berpuasa satu bulan penuh.

Dan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin dalam bulan tersebut, adalah malam lailatul qadar, yang kemuliaannya lebih baik dari pada seribu bulan. Allah swt berfirman :

وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al-Qadr 97:2-3)

Hanya saja ada satu hal yang membuat kita bertanya tanya, kenapa Allah memilih waktu malam untuk menurunkan al qur an?. Kenapa bukan siang, dan kenapa pula para malaikat dan jibril juga ikut turun pada malam itu?.

Turunnya malaikat di malam hari, tentu membuat kita bertanya-tanya. Mengapa Allah mengkhususkan waktu malam untuk menurunkan para malaikatnya, dan mengapa bukan siang, ada apa dengan siang?. Apakah siang dan malam itu bermusuhan?.

Untuk menjawab soal tersebut, ada baiknya kita pahami dulu soal siang dan malam dalam perspektif bumi datar. Siang disimbolkan dengan matahari sedangkan malam disimbolkan dengan bulan. Yin dan Yang, simbol dari keseimbangan alam.

Dalam teori bumi datar, bulan memiliki cahayanya sendiri, bukan dari pantulan sinar matahari, seperti yang diklaim oleh kaum bumi bulat. Ini yang harus kita pahami terlebih dahulu bahwa bulan memiliki cahayanya sendiri.

Menurut penulis, mengapa Allah memilih waktu malam sebagai malam kemuliaan diturunkannya al quran dan sekaligus para malaikat-Nya. Hal ini tak lain karena cahaya bulan merupakan simbol diciptakannnya malaikat. Sedangkan matahari adalah simbol diciptakannya jin. Malaikat diciptakan dari cahaya sedangkan jin diciptakan dari api. Matahari memiliki unsur yang bisa mengahasilkan cahaya berupa api sedangkan bulan memiliki unsur yang bisa menghasilkan cahaya tanpa api.

Dengan begitu matahari berpasangan dengan penciptaan jin dan bulan berpasangan dengan penciptaan malaikat, masing-masing mempunyai ikatan yang saling berhubungan, dan tak dapat dipisahkan, begitu pula dengan penciptaan manusia yang asalnya diciptakan dari tanah (bumi).

Tentu tak heran apabila Nabi Muhammad saw ketika isra’ mikraj diberangkatkan pada malam hari, bukan di siang hari. Mungkin alasannya, karena pada malam hari itulah malaikat mempunyai waktu khusus untuk mengurus segala urusannya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.” (Al-Qadr 97:4)

Bukan berarti pada siang hari malaikat tidak melakukan tugasnya, begitu pula sebaliknya yakni jin (dari bangsa syaitan) tidak melakukan tugasnya di malam hari, tentu bukan itu maksud dari pernyataan kami. Akan tetapi pada saat-saat tertentu jin (dari bangsa syaitan) dan malaikat melakukan keperluannya sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan padanya. Jin (dari bangsa syaitan) waktu khususnya adalah siang hari sedangkan malaikat waktu khususnya adalah malam hari.

(wallahualam)

By acit

PINTU-PINTU LANGIT DALAM PANDANGAN BUMI DATAR

Pernahkah Anda mendengar berkenaan dengan pintu-pintu langit yang dibuka pada bulan Ramadhan?. Tahukan Anda pintu itu letaknya dimana?.

Ya benar, ada dilangit, tapi langit yang mana jika buminya bulat?. Selalu kami bertanya pada mereka (kaum bumi bulat) bukankah dalam konsep bumi bulat arah atas dan bawah itu tidak ada, apalagi ketika berada diluar angkasa?.

Sangat berbeda jauh dengan konsep bumi datar, arah atas dan bawah sangat mudah untuk dipahami, atas itu adalah langit yang berlapis tujuh dimana surga berada diatasnya, dan bawah itu adalah bumi berlapis tujuh, dimana letak neraka itu berada dibawahnya.

Posisi arah atas dan bawah dalam pemahaman konsep bumi datar, harus dipahami terlebih dahulu agar supaya kita dapat memastikan bagaimana sebetulnya rancangan alam semesta kita ini tercipta.

Pada pembahasan kali ini, kami akan menyinggung soal pintu-pintu langit. Bagi kami langit mengandung air, karena itu air yang ada dilangit akan turun ke muka bumi apabila pintu-pintu langit itu dibuka oleh Sang Maha Pencipta sebagaimana firman Allah swt :

فَفَتَحْنَآ أَبْوَٰبَ ٱلسَّمَآءِ بِمَآءٍ مُّنْهَمِرٍ “

Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah” (Al-Qamar 54:11)

Tidaklah yang dimaksud pintu langit dalam ayat ini melainkan pintu langit yang berada diatas bumi datar kita. Langit tidak hanya mempunyai satu pintu melainkan lebih dari satu pintu. Disetiap pintu terdapat malaikat penjaga. Allah swt berfirman :

وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتْ أَبْوَٰبًا

“dan langit pun dibukalah, maka terdapatlah beberapa pintu,” (An-Naba’ 78:19)

Tentu kita masih ingat pristiwa mikrajnya nabi Muhammad dari langit ke satu sampai langit ke tujuh. Disetiap lapisan langit, Nabi Muhammad bersama jibril bertemu dengan seorang malaikat penjaga pintu. Layaknya seorang tamu, beliau ditanya terlebih dahulu, siapa, dan apa keperluannya. Itulah yang beliau alami ketika melakukan mikraj dalam rangka untuk bertemu sang Rabbul ‘alamin. Dan ketika salah satu pintu langit itu dibuka, maka pintu-pintu yang lain pun juga turut terbuka. Allah swt berfirman :

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ

“Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,” (Al-Hijr 15:14)

Ketika Nabi Muhammad terus menerus naik ke atas langit, disana beliau kemudian bertemu dengan Allah swt, yakni diatas arsy. Tempat singgahsana Allah berada, dan tidaklah yang berada diatas arsy melainkan adalah Rahmatnya, bukan dzat-Nya seperti yang sebagian kaum muslimin tuduhkan.

Kita tidak tau seperti apa bentuk pintu langit tersebut, yang jelas pintu ini berbeda dengan pintu yang selama ini kita lihat di dunia. Fir’aun juga pernah menyinggung pintu ini pada Nabi Musa. Sebagaimana yang termaktub dalam al qur’an:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبْنِ لِى صَرْحًا لَّعَلِّىٓ أَبْلُغُ ٱلْأَسْبَٰبَ أَسْبَٰبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّى لَأَظُنُّهُ‌و كَٰذِبًاۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۧ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِى تَبَابٍ

Dan Fir‘aun berkata, “Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta. Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Firaun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Firaun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (Ghafir 40:36-37)

Adapun yang dimaksud melihat Tuhan Musa dalam ayat diatas adalah melihat Rahmat tuhan yakni surganya yang berada di atas langit yang hanya ditujukan, disiapkan dan diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa pada-Nya. Bukan diperuntukkan bagi orang orang yang menyombongkan diri dan menafikkan kebenaran firman-Nya.

Oleh karena itu, pintu-pintu langit tersebut akan selalu tertutup bagi orang orang yang mengingkari firmannya kecuali bagi hamba-Nya yang selalu patuh pada perintahnya dan menjauhi larangannya. Allah swt berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَٰتِنَا وَٱسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَٰبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلْجَمَلُ فِى سَمِّ ٱلْخِيَاطِۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُجْرِمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat. (Al-A’raf 7:40)

Maka tak heran apabila disetiap bulan Ramadhan Allah selalu membukakan pintu-pintu langit agar hamba-Nya selalu mendapatkan Rahmat-Nya yakni berupa surga yang telah lama Dia janjikan. Sebagimana yang disinggung dalam sebuah hadis :

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي أَنَسٍ مَوْلَى التَّيْمِيِّينَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِي

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada saya Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Ibnu Abu Anas, maulanya at-Taymiyyiin bahwa bapaknya menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Apabila bulan Ramadhah datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahannam ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu. [Hadis ini diriwayatkan dua imam besar dalam bidang hadis, Imam Bukhari no. 1766 dan Imam Muslim no. 1793.]

Dan tidaklah pintu-pintu langi itu dibuka kecuali agar supaya hambanya selalu mendapatkan Rahmat-Nya, yang dia letakkan diatas langit, di atas bumi datar kita, berupa surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah, Tuhan seluruh alam.

(wallahualam)

By acit

ISTIWA DALAM PANDANGAN BUMI DATAR

Sampailah kita pada pembahasan istiwa, setelah mengetahui bahwasanya arsy adalah berupa atap surga seperti kubah di atas bumi, langit lapis ke tujuh. Permasalahan istiwa memang suatu pembahasan yang sangat sensitif karena dari sana kita akan terjebak pada suatu paradigma yang mau tidak mau harus mengambil jalan tengah agar tidak jatuh dalam pemahaman yang sesat seperti memujassimahkan (menyerupakan) Allah swt dengan makhluknya.

Tak sedikit dari saudara kita semuslim yang tergelincir dalam pemaknaaan yang sebetulnya harus kita hindari. Bukankah Allah swt telah berfirman :

فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ أَزْوَٰجًاۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۧ شَىْءٌۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (Ash-Syura 42:11)

Langit, bumi, beserta Arsy-Nya adalah makhluk Allah yang membutuhkan arah dan tempat. Sedangkan Allah tidaklah demikian, karena Dia tidak sama dengan makhluk-Nya. Maha suci Allah dari segala apa yang mereka sifatkan. Oleh karena itu Ahlussunnah mengatakan:

اللهُ مَوْجُوْدٌ بِلاَ مَكَانٍ وَلاَ جِهَةٍ

“Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah”.

Allah memang tidak membutuhkan tempat dan arah, lalu bagaimana cara kita memahami ayat yang menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas arsy?.

Karena arsy-Nya ada di langit, maka tak heran jika ada segelintir orang, kemudian menyimpulkan bahwa Allah ada di langit pula. Padahal Allah berbeda dengan makhluk-Nya, dia tidak membutuhkan arah dan tampat.

Sungguh hal itu telah menunjukkan sebuah sikap yang secara terang terangan dan tanpa disadari telah menyerupakan Allah dengan makhluknya, dan itu bukanlah cermin dari golongan ahlussunnah wal jamaah. Maka dari itu, perlu suatu paradigma yang berbeda agar pemahaman ini tidak menyesatkan.

Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, penulis akan mencoba menganalisanya tentang cara memahami bagaimana sebetulnya yang dimaksud Allah beristiwa itu. Kita akan mulai pembahasannya dengan membuka ayat al quran yang bersinggungan dengan bahasan istiwa. Setidaknya ada lebih dari satu ayat yang menegaskan istiwa-Nya Allah yaitu :

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُ‌و حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۧٓۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (Al-A’raf 7:54)

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۖ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ إِذْنِهِۧۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus 10:3)

ٱللَّهُ ٱلَّذِى رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَاۖ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۚ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu. (Ar-Ra’d 13:2)

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۚ ٱلرَّحْمَٰنُ فَسْئَلْ بِهِۧ خَبِيرًا

yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad). (Al-Furqan 25:59)

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۧ مِن وَلِىٍّ وَلَا شَفِيعٍۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (As-Sajdah 32:4)

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَاۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid 57:4)

Memang benar pada ayat di atas, Allah beri-istiwa di atas langit, tapi tunggu dulu jangan salah paham, istiwa-Nya Allah diatas langit bukan serta merta berkenaan dengan dzat-Nya. Sebagian kaum muslimin terjerumus – kalau tidak mau dikatakan tersesat – pada pemaknaan istiwa Allah dengan dzatnya. Dzat Allah tidak boleh kita fikirkan bagaimana dzat Allah itu, karena Nabi SAW pernah bersabda :

تفكروا فى خلق الله ولا تفكروا فى الله فإنكم لن تقدروا قدره

Artinya: “pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan kamu memikirkan Dzat Allah, karena kamu tidak dapat menjangkau-Nya.

Tentu jika kita mengatakan dzat Allah ada di langit, hal itu tak ubahnya kita mengatakan bahwa dzat Allah dapat dijangkau oleh fikiran kita karena berada dalam arah dan tempat. Maka dari itu untuk menjaga agar aqidah kita tidak terperangkap dalam pemaknaan tersebut. Penulis mempunyai interpretasi sendiri terhadap ayat ini.

Menurut al faqir istawanya Allah di langit bukan berkenaan dengan dzatnya, melainkan berkenaan dengan makhluk ciptaan-Nya. Sebagaimana dalam konsep bumi datar bahwa surga Allah berada di atas langit, sedangkan neraka-Nya berada di bawah bumi lapis ke tujuh.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud istiwanya Allah di atas arsy itu adalah berkenaan dengan rahmat-Nya yang Dia sediakan dan ditempatkan diatas langit lapis ke tujuh. Sebagaimana firman Allah swt telah :

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaa Ha 20:5)

Perhatikan pada ayat diatas, bahwa yang bersemayam bukanlah dzat Allah melainkan ar-Rahman yakni (air) surga-Nya, yang terletak di atas lapis langit ke tujuh. Jika memang yang dimaksud adalah dzat Allah yang bersemayam di atas arsy, mengapa dalam ayat diatas Allah tidak menggunakan nama dzat-Nya secara tersendiri. Misalkan dengan lafadz:

الله على العرش استوا

“Allah yang bersemayam di atas arsy”

Mengapa Allah menggunakan lafadz Ar-Rahman. Jika dzat Allah dikatakan berada diatas arsy, berarti Allah tidak ada di bawah bumi lapis ketujuh (lokasi neraka) ? Itu artinya Allah mempunyai keterbatasan karena tidak bisa menempati semua tempat?. Jika kita menggunakan pemahaman seperti itu, maka itu batil dan menyesatkan. Maha suci Allah dari segala apa yang mereka sifatkan. Padahal Allah swt berfirman :

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَاۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid 57:4)

Sudah sangat jelas bahwa ayat di atas yang dimaksud adalah Ar-Rahman alias rahmat Allah yang diletakkan diatas arsy bukan dzat-Nya sebagaimana yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Karena dalam ayat diatas Allah mengatakan bahwa Dia bersama kita di mana saja kita berada karena dzat-Nya tidak dibatasi oleh arah dan tempat, dan bukan berarti Allah berada dimana mana, akan tetapi itu menunjukkan bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah.

Untuk menguatkan argumentasi kami, mengapa istiwa yang dimaksud adalah rahmat (air surga) Allah yang ia letakkan diatas arsy adalah sabda Nabi Muhammad saw :

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ اللَّهِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Jika kalian hendak meminta/berdo’a maka mintalah surga Firdaus. Sesungguhnya dia adalah tengahnya surga dan surga yang tertinggi. Di atasnya ‘Arsy Allah dan darinyalah terpancar sungai-sungai di surga” (HR. bukhari no. 2790)

Jika masih ragu dengan pendapat kami bahwa istiwa-Nya Allah di atas arsy adalah berkenaan dengan rahmatnya (air surga) kami bawakan hadis lain yakni :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

Telah menceritakan kepada kami [Abul Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu’aib] telah menceritakan kepada kami [Abuz zinad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Allah menetapkan penciptaan, Dia tulis di sisi-Nya di atas arsy-Nya ‘Rahmat-Ku lebih mendominasi kemurkaan-Ku’.” (Hadits Bukhari Nomor 6872)

Perhatikan pada bait hadis di atas pada potongan lafadz

رحمتي سبقت غضبي

“Rahmat-Ku lebih mendominasi kemurkaan-Ku”

Sudah jelas bahwa diatas arsy yang bersemayam adalah rahmatnya yang berupa surga sedangkan murkanya berada dibawah lapis bumi ke tujuh yakni neraka. Oleh sebab itu posisi rahmat-Nya dikatakan lebih mendominasi dari pada murka-Nya.

Karena itu jangan heran apabila kaum muslimin ketika berdoa selalu menengadahkan tangannya ke atas langit. Karena di langit itulah Allah meletakkan rahmat-Nya (surga). Dan dari sanalah Rahmat Allah itu diturunkan bagi hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Sedangkan murkanya (neraka) berada di bawah bumi lapis ketujuh yakni diperuntukkan bagi hambanya yang mengingkari perintah-Nya.

Jadi sekali lagi dapat dikatakan bahwa bersemayamnya Allah di atas arsy bukan berkenaan dengan dzatnya, karena dzatnya tidak dibatasi oleh arah dan tempat. Yang bersemayam diatas arsy adalah berkenaan dengan Rahmatnya, yaitu berupa air surga yang terpancar darinya.

(wallahualam)

By acit

KORELASI ANTARA LETAK ARSY DAN BUMI DATAR

Sebelum kita masuk lebih jauh pada pembahasan tentang istiwa dalam pandangan konsep bumi datar. Kita harus pahami terlebih dahulu apa makna dari arsy yang dimaksudkan dalam al quran. Butuh pemikiran yang super ekstra agar kita tidak terjerumus dalam pemaknaan yang menyesatkan supaya permasalahan ini bisa kita urai dengan lugas dan cermat.

Sebagai penggiat bumi datar, penulis memahami bahwa permasalahan ini sangat erat hubungannya dengan persoalan aqidah yakni permasalahan yang menjurus pada pemahaman mujassimah atau menyerupakan Allah dengan makhluknya, untuk itu kritik dan saran akan kami terima dengan selebar-lebarnya demi mencapai sebuah perenungan yang mendalam dan penuh dengan kehati-hatian.

Untuk mengawali pembahasan masalah arsy dan bumi datar ini, penulis akan membawakan sebuah surat yang berhubungan dengan pristiwa kiamat.

Adapun alasan utama, mengapa kami mengkaitkan permasalahan ini dengan peristiwa kiamat, oleh karena pembahasan arsy dan bumi datar mempunyai korelasi yang cukup erat dengan eskatologi (ilmu kiamat). Kita mulai dengan membuka surat al haqqah :

فَإِذَا نُفِخَ فِى ٱلصُّورِ نَفْخَةٌ وَٰحِدَةٌ وَحُمِلَتِ ٱلْأَرْضُ وَٱلْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَٰحِدَةً فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ ٱلْوَاقِعَةُ

“Maka apabila sangkakala ditiup, sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat” (Al-Haqqah 69:13-15)

Dalam surat ini diceritakan mengenai peristiwa kiamat dimulai dengan ditiupnya sangkakala dengan sekali tiup. Saat itulah rentetan pristiwa kiamat akan terjadi satu demi satu, bumi dan gunung diangkat, kemudian keduanya dibenturkan dengan sekali benturan.

Tentu pristiwa kiamat semacam ini, sangatlah bertentangan dengan konsep kiamat bumi bulat. Dimana antara bumi, bulan, dan matahari serta planet lainnya yang bertebaran diangkasa, saling berbenturan dan bertubrukan. Dari sini kiamat konsep bumi bulat sudah tak bisa lagi dijadikan dasar dalam menjelaskan pristiwa kiamat karena menyelisihi apa yang disampaikan dalam al quran.

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah swt menjelaskan tentang sifat dan kondisi dari arsy sebagaimana dalam firmannya :

وَٱنشَقَّتِ ٱلسَّمَآءُ فَهِىَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَاۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ

“dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al-Haqqah 69:16-17)

Harus diingat bahwa dalam konsep bumi datar, langit berada diatas dan bumi ada dibawah. Dalam ayat diatas ketika pristiwa kiamat terjadi langit menjadi rapuh. Karena langit rapuh, dikhawatirkan langit itu runtuh. Kemudian sebanyak delapan malaikat menjunjung arsy Allah agar supaya tidak jatuh ke bawah.

Berdasarkan ayat ini kita bisa menangkap dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa arsy itu adalah berupa atap di atas bumi kita. Sebelum kiamat datang dan terjadi, langit diatas bumi kita berdiri kokoh sebagaimana Allah swt berfirman :

ٱللَّهُ ٱلَّذِى رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَاۖ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۚ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.” (Ar-Ra’d 13:2)

Dan dalam surat yang lain Allah juga berfirman :

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَاۖ وَأَلْقَىٰ فِى ٱلْأَرْضِ رَوَٰسِىَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Luqman 31:10)

Namun ketika kiamat terjadi langit ini pun menjadi rapuh, dan arsy Allah kemudian di dekatkan ke bumi. Maka saat itu manusia akan melihat delapan malaikat memikul arsy. Jadi arsy Allah disini adalah atap yang berada di atas langit lapis ke tujuh. Allah swt berfirman

قُلْ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبْعِ وَرَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

Katakanlah, “Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang agung? ( Al-Mu’minun 23:86)

Apabila kita masih belum yakin bahwa arsy Allah itu berupa atap yang berada diatas langit lapis ketujuh, bukankah Nabi Muhammad saw ketika isra’ mikraj bertemu dengan Allah di atas langit lapis ke tujuh?. Dan tidaklah nabi Muhammad menemui Ar-Rahman melainkan disinggahsananya yakni di atas Arsy, sebagaimana dalam firman-Nya :

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۖ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ إِذْنِهِۧۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (Yunus 10:3)

Perhatikan pada bait diatas yakni pada kalimat “Dia (Allah) bersemayam diatas arsy untuk mengatur segala urusan”. Arsy Allah berupa atap di atas bumi datar kita, dan Nabi Muhammad SAW ketika isra’ mikraj dan semenjak menginjakkan kakinya di atas langit lapis ke tujuh, yakni mustawa mendengar sebuah pena yang sedang menulis takdir alam semesta kita.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عُرِجَ بِي حَتَّى ظَهَرْتُ بِمُسْتَوًى أَسْمَعُ صَرِيفَ الْأَقْلَامِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku dibawa naik ke langit hingga sampai di Mustawa, dan aku mendengar goresan pena-pena.” [HR. Ahmad 20326]

Itulah singgasana Allah, yang mana ar-Rahman mengatur segala urusannya, hidup kita, rezeki kita, dan juga akhir hayat kita sebagai manusia dimuka bumi. Dalam hadis yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

“Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-langit dan bumi, seperti begini dan beliau memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti KUBAH.”. [HR Ibnu Abi Ashim dalam As-sunnah 1/252]

Arsy Allah adalah makhluk dan yang bernama makhluk pasti membutuhkan arah dan tempat, dan tempatnya adalah diatas langit lapis ketujuh. Apabila kita tarik dalam pemahaman bumi datar, tentu letak arsy ini mudah untuk kita identifikasi, karena arah atas dan bawah sangatlah jelas.

Berbeda jika kita menggunakan pendekatan bumi bulat, arah atas dan bawah tidak begitu jelas, karena atas bisa menjadi bawah, dan bawah bisa menjadi atas, mengingat bentuk buminya yang bulat.

Berangkat dari penjelasan diatas, dapat kita pahami bahwa arsy dan konsep bumi datar mempunyai keterkaitan antara yang satu dengan yang lain. Dan pastinya tidak akan bisa kita pahami dengan mudah, apabila menggunakan pendekatan konsep bumi bulat.

(wallahualam)

By acit

TAFSIR TELUR BURUNG UNTA YANG SEBENARNYA

Sebelum kita membahas lebih dalam bahasan kita kali ini, ada yang perlu kami sampaikan kepada para pembaca, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita, bahwa apa yang tertera dalam bahasan ini, adalah sebagai bentuk sanggahan dari kaum bumi datar untuk kaum bumi bulat.

Adapun tafsiran awal yang akan kami ulas adalah tafsiran menggunakan logika kaum bumi bulat yang mengatakan bahwa bumi seperti telur burung unta.

Tak ada sedikitpun niatan penulis untuk merubah makna yang terkandung di dalam al quran, sebagaimana yang telah para mufassirin kemukakan bahwa bumi adalah hamparan.

Agar tidak terlalu panjang lebar, baiknya sekarang kita akan mulai bahasan ini dengan mengulas ayat yang dijadikan pedoman oleh kaum bumi bulat, bahwa bumi bulat seperti telur burung unta.

Adapun landasan yang digunakan oleh kaum bumi bulat dalam menjustifikasi pendapatnya tentang bumi berbentuk bulat seperti telur burung unta adalah ayat berikut :

وَٱلْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ

“Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.” (An-Nazi’at 79:30)

Yakni pada lafadz ,دَحَىٰهَآ, setelah dicari turunan katanya ditemukan lafadz الأدحي yang artinya menurut kaum bumi bulat adalah telur burung unta.

Karena bentuk dari telur burung unta adalah bulat, maka otomatis sesuai tafsir ayat ini maka bumi pun juga berbentuk bulat. Hanya saja karena telur burung unta bentuknya agak lonjong dikit yakni oval maka bumi bulat pun juga sama yakni bulat oval.

Meski demikian, pendapat semacam itu, sebenarnya tidak serta merta menambah kekuatan argumen yang mereka miliki. Bahkan sebaliknya, hal itu akan menjadi bumerang terhadap konsep bumi bulat itu sendiri.

Alasannya sederhana, mengapa kami mengatakan demikian, jika kita menafsirkannya sebagai telur burung unta, yang mana telur burung unta bentuknya ellipse atau oval, tidak bulat utuh seperti bola, itu artinya bumi globe yang kita lihat selama ini juga salah, karena bumi globe tidak berbentuk ellipse melainkan bulat utuh.

Seberapa ngototnya kaum bumi datar, bahwa yang dikatakan kaum bumi bulat adalah salah dalam menafsirkan ayat tersebut. Mereka akan tetap yakin dengan pendiriannya tentang tafsir telur burung unta ini, tanpa adanya koreksi dan data pembanding.

Karena mereka menganggap sudah mempunyai dasar yang cukup dalam kitab suci al quran walau dengan cara yang tidak elegan. Dengan begitu, mereka pun merasa tenang, yakin, dan penuh percaya diri menyatakan kepada kaum bumi datar bahwa bumi itu bulat tapi agak lonjong dikit, dengan dasar dan pegangan dalam surat an-nazi’at ayat 30 pada lafadz دحاها yang apabila dicari turunan katanya adalah telur burung unta.

Padahal jika mereka mau lebih teliti lagi, dan mau lebih cermat lagi, serta mengkajinya dengan penuh kehati-hatian, maka mereka tidak akan terjebak – kalau tidak mau dikatakan tersesat – terhadap makna yang sesungguhnya tentang telur burung unta yang didadasarkan pada lafadz الأدحي.

Mari kita buka kamus bahasa arab al munawir untuk mengoreksi benarkah lafadz “dahaaha” jika dicari turunan katanya akan ditemukan lafadz “al udhiyyu” yang artinya telur burung unta?.

Adapun mengapa al faqir menggunakan kamus al munawir ini, oleh karena hanya itulah kamus bahasa arab yang terlengkap, yang bisa mentranslat ke dalam bahasa indonesia dengan sangat detailnya. Kalaupun Anda punya kamus rujukan lain, silahkan Anda cari apa pengertian dari lafadz الأدحي yang sebenarnya.

Dalam kamus al munawir ketika kita mencari turunan kata dari potongan ayat دحاها, dimana lafadz ها adalah isim dhomir, maka ditemukan wazan fiil dan masdarnya yaitu :

دحا – دحوا

Yang artinya adalah membentangkan (kamus al munawir edisi kedua hal. 391).

Dan memang benar pada lafadz ini, juga ditemukan turunan kata الادحي tapi artinya bukan telur burung unta. Adapun kalimat lengkapnya yang al faqir temukan dalam kamus al munawir adalah sebagai berikut :

الأ دحوة و الأدحية و الأدحي

Yang artinya adalah “sarang telur burung unta dipasir” (kamus al munawir edisi kedua hal. 391).

Jadi sudah jelas, dan bisa kita katakan bahwa tafsir telur burung unta sangatlah tidak tepat jika disematkan pada lafadz الأدحي, karena arti yang sebenarnya adalah “sarang telur burung unta di pasir”.

Titik poin dari penafsiran pada lafadz ayat diatas, jika mau dilarikan pada lafadz الأدحي maka bukan bentuk dari telur burung untanya yang dimaksud, melainkan bentuk dari sarang burung untanyalah yang dimaksud. Dan satu lagi bahwa sarang telur burung unta itu berada diatas pasir, jika bumi dikatakan bulat seperti telur burung unta seharusnya juga berada diatas pasir.

Tentu sangat berbeda jika tafsir ini dipahami oleh kaum bumi datar. Dimana sebelum bumi ini ditempati oleh manusia Allah swt mempersiapkan bumi ini telebih dahulu. Ini sama halnya dengan sikap burung unta yang mempersiapkan sarangnya terlebih dahulu sebelum ditempati telurnya.

Burung unta ketika membuat sarang, hal yang pertama kali dia lakukan adalah melembutkan atau menggemburkan tanah atau pasir yang akan digunakan untuk mengerami telurnya.

Begitulah makna yang terkandung dalam ayat diatas. Sekali lagi, bukan bentuk telurnya yang dijadikan patokan dasar dalam memahami ayat ini, melainkan bentuk sarangnyalah yang dijadikan dasar dalam penjelasan ayat diatas.

Sekarang kami ingin bertanya kepada mereka, dimanakah bumi bulat Anda berada?, diatas pasirkah (tanah)?. Bukanlah bumi bulat Anda berada diatas ruang galaksi yang tak mempunyai pasir atau tanah?

Berangkat dari tafsir ini saja sudah sangat mengganjal dan tak bisa dijadikan dasar. Al qur’an bukanlah firman yang bisa dipaksakan, atau dicocok-cocokkan dengan pendapat pribadi segelintir orang. Al quran diturunkan dalam bahasa arab.

Oleh karena berbahasa arab, maka kita kembalikan maknanya sesuai dengan asal muasal bahasanya. Bukan malah dirubah dan diselewengkan sesuai dengan kemauan ‘”hawa nafsu” mereka.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari pembahasan kali ini adalah bahwa lafadz دحاها bukan telur burung unta, melainkan sarang telur burung unta di pasir. Apabila kita lihat dalam tafsir al quran manapun, kita tidak akan pernah menemukan satupun ulamak yang menafsirkan lafadz tersebut dengan telur burung unta, baik tafsir klasik maupun tafsir kontemporer.

Semua ulamak sepakat bahwa tafsiran ayat ini adalah menghamparkan atau dibentangkan. Jika pun kaum bumi bulat tetap bersikukuh dan mengatakan bahwa ayat ini adalah telur burung unta bukan sarang telur burung unta di pasir atau pun dihamparkan.

Lalu mengapa Allah tidak mengatakannya dengan lafadz :

والأرض بعد ذالك كالأدحي

“dan bumi setelah dia (buat) seperti telur burung unta”

Meskipun pada kenyataannya, arti sebenarnya bukanlah telur burung unta melainkan sarang telur burung unta dipasir.

Sungguh penafsiran yang terlalu dipaksa-paksakan jika dikatakan sebagai telur burung unta. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, dan kami berlepas diri dari apa yang mereka selewengkan terhadap ayat-ayat-Nya.

(wallahualam)

Menjawab Tuduhan tentang Lafadz “YUKAWWIRU”

Bahasan mengenai matahari dan bulan mengelilingi bumi menurut al qur’an telah penulis ulas disesi judul tulisan yang lain, dengan judul “YUKAWWIRU : matahari dan bulan mengelilingi bumi”.

Namun ketika al faqir menyampaikam hal itu pada mereka, respon yang al faqir terima malah menambah keingkaran mereka dan mereka tetap bersikukuh dengan pendapatnya serta menyangkal kebenaran ayat tersebut (az zumar ayat 5).

Alasannya adalah jika saya mengatakan matahari dan bulan mengelilingi (يكور) bumi maka yang terjadi adalah proses mengelilingi atau memutar haruslah berada disekeliling atau diluar jalur ruang yang diputar semisal memutar kakbah.

Yakni apabila kita memutar kakbah maka putaran yang berlangsung adalah disekeliling luar kakbah, bukan didalam ataupun di atas kakbah, itu artinya bumi kita tetap bulat dan tidak datar.

Seperti yang disampaikan oleh imam ibnu hazm bahwa yukawwiru artinya menggulung layaknya menggulung sorban pada kepala dengan cara diputar. Karena yang digulung adalah kepala, maka bumi pun juga bulat, karena kepala bentuknya bulat.

Jadi proses memutar atau digulung harus berada diluar putaran benda tersebut. Bukan didalam ataupun di atasnya, sebagaimana yang dipahami dalam teori bumi datar. Dimana matahari dan bulan mengelilingi bumi datar tapi diatas bumi datar, seharusnya berada di sekelilingnya, bukan di atas ataupun di dalam.

Dengan demikian proses putaran semacam itu sangat bertentangan dengan nalar akal sehat manusia. Bagaimana bisa dikatakan menggulung, jika yang digulung berada di atas atau di dalam benda tersebut.

Jadi proses memutar haruslah berada diluar putaran benda tersebut yakni disekelilingnya, dan bumi tetaplah bulat, bukan datar. Begitulah kata mereka.

Sejenak saya merasa terkesan dengan analisa yang mereka gunakan ketika membantah argumen kami terhadap ayat ini, surah az zumar ayat 5.

Namun kami bersyukur pada Allah apabila mereka telah mulai memahami dan menerima realitas kebenaran ayat tersebut bahwa bumi itu diam dan matahari serta bulanlah yang mengelilingi bumi.

Tapi sebelum bahasan ini kami lanjutkan, ada yang ingin penulis sampaikan pada mereka, bahwa kami menangkap pemahaman itu dengan cara yang berbeda.

Agar penyampaian kami bisa dimengerti oleh kaum bumi bulat baiknya kita buka lagi dan ulas kembali surat az zumar 39: 5 dengan redaksi terjemahan yang lebih pas. Allah swt berfirman :

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّۖ يُكَوِّرُ ٱلَّيْلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيْلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۗ أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّٰرُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.’ (Az-Zumar 39:5)

Perhatikan pada ayat diatas yang digulung itu kira-kira apa?.

Ya benar, yang digulung memang bukan bumi melainkan malam dan siang.

Sekarang saya ingin bertanya lagi, siang dan malam itu ada dimana?.

Bukankah fenomena terjadinya siang dan malam berada diatas bumi. Itu artinya sanggahan yang disampaikan oleh kaum bumi bulat menambah kekuatan argumentasi yang dimiliki oleh kaum bumi datar.

Bahwa matahari dan bulan ber “yukawwiru” atau berputar mengelilingi bumi tapi diatas bumi, karena fenomena alam siang dan malam terjadi diatas bumi kita.

Maka dari itu lafadz yang digunakan diantara lafadz “laila” dan “nahar” adalah lafadz ” ‘ala “yang artinya di atas, bukan diluar ataupun di dalam.

SubhanAllah sedemikian detailnya Allah menerangkan ayatnya sehingga mereka pun tak bisa berkutik menentang ayat-ayat-Nya.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

(wallahualam)

Benarkah matahari dan bulan bentuknya datar karena proses digulung?

Tentu hanya isu bumi datar yang sering kita dengar selama ini. Namun siapa sangka jika ada sekelompok bumi datar ada yang mengatakan bahwa matahari dan bulan juga sama datarnya seperti bumi.

Seebagian kaum bumi datar percaya kalau bulan itu datar dan bersifat transparan. Dan apabila dikaji dengan menggunakan pendekatan al quran apa yang mereka katakan ternyata tak ada salahnya juga.

Namun yang menjadi kekagetan bagi al faqir adalah adanya statmen bahwa bukan hanya bulan saja yang datar tapi berikut mataharinya ternyata juga sama datarnya.

Pertama kali ketika mendengar statmen semacam itu mungkin akan dianggap sebagai sebuah kegilaan dan diluar mindset nalar orang kebanyakan.Karena apa yang selama ini kita lihat diatas langit matahari dan bulan adalah bulat bukan datar?.

Namun kita belum tahu apakah bulatnya itu seperti bola ataukah berbentuk bundar setengah bola, layaknya pesawat piring terbang?.

Banyak yang menganggap bahwa bulat dan bundar itu sama saja, padahal ada perbedaan diantara keduanya.

Bulat tidaklah bundar dan bundar tidaklah bulat. Bulat berbentuk tiga dimensi seperti halnya bola sepak, sementara bundar berbentuk cakram yang pipih, layaknya uang koin atau meja bundar.

Akan tetapi kali ini saya tidak akan membahas dari segi sainsnya, walaupun saya tahu dari segi sains hal itu juga bisa dibuktikan. Saya akan membahas bagaimana sebetulnya pandangan al quran dan hadis mengenai matahari dan bulan tersebut?.

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, harus kita pahami terlebih dahulu bahwa konsep matahari dan bulan adalah bulat hanyalah sebatas teori dan bukan sebuah realitas yang harus diterima secara mutlak.

Sama halnya dengan teori manusia dari kera, itu hanya sekedar teori bukan sebuah realitas yang harus diyakini.

Harus dipahami pula bahwa kaum bumi datar juga tidak percaya neil amstrong bisa mendarat di bulan dan begitu pula dengan adanya satelit di luar angkasa, kaum bumi datar tidak percaya akan hal itu.

Satelit bagi mereka itu tidak ada, alias HOAX, hal ini sudah dijelaskan dibeberapa situs website bumi datar dalam negeri maupun luar negeri.

Apabila kita sudah bisa memahami logika kaum bumi datar, kita akan mencoba menjawab pertanyaan benarkah matahari dan bulan itu tidak bulat menurut al qur’an?.

Untuk menjawab soal tersebut sebaiknya kita membuka ayat al quran yang berhubungan dengan pristiwa kiamat.

Karena sebetulnya konsep bumi datar mempunyai keterkaiatan dengan ilmu kiamat (eskatologi), maka dari itu saya akan menggunakan pendekatan tersebut untuk menguak apa rahasia tersembunyi yang ada di alam semesta kita.

Allah swt berfirman:

إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ

“Apabila matahari digulung,” (At-Takwir 81:1)

Sejenak saya berpikir tentang ayat ini, bagaimana caranya matahari bisa digulung dihari kiamat, jika mataharinya bulat?.

Kecuali mataharinya datar dan berbentuk bundar layaknya makanan kebab (makanan khas dari timur tengah), maka tentu bisa digulung.

Karena itu, untuk menjawab dan memperjelas permasalahan mengenai makna “digulung”, kita akan lihat dalam ayat yang lain pengertian dari digulung (كورت dari fi’il madhi كور ) yakni surat al anbiya’ ayat 104. Allah SWT berfirman :

يَوْمَ نَطْوِى ٱلسَّمَآءَ كَطَىِّ ٱلسِّجِلِّ لِلْكُتُبِۚ كَمَا بَدَأْنَآ أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ‌وۚ وَعْدًا عَلَيْنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَٰعِلِينَ

“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya. (Al-Anbiya 21:104)

Sungguh diluar nalar kami, ayat ini mengabarkan pada kita bahwa langit juga tak berbentuk bulat melainkan datar layaknya kertas. Silahkan Anda pelajari konsep lapisan langit menurut kaum bumi bulat, langit bagi mereka juga sama bulatnya. Namun apalah daya al quran mengatakan yang sebaliknya.

Kembali kepada permasalahan digulungnya matahari, dalam ayat diatas ketika Allah menjelaskan peristiwa kiamat Allah SWT menggunakan kata نطوي dari fi’il madhi طوي yang artinya juga tidak jauh beda dengan (كورت) digulung yakni “melipat”. (kamus al munawir edisi kedua hal. 874)

Jadi yang dimaksud digulung adalah seperti menggulung lembaran kertas. Sedangkan kertas itu datar dan tidak bulat. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa matahari itu datar tapi berbentuk bundar, oleh karenanya matahari bisa digulung dihari kiamat layaknya lembaran kertas.

Lalu bagaimana dengan bulan apakah nasibnya juga sama dengan matahari yakni digulung juga?.

Untuk menjawab hal itu mari kita simak hadis dibawah ini :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ الدَّانَاجُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ مُكَوَّرَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Telah bercerita kepada kami [Musaddad] telah bercerita kepada kami [‘Abdul ‘Aziz Al Mukhtar] telah bercerita kepada kami [‘Abdullah Ad Danaj] berkata telah bercerita kepadaku [Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: *”Matahari dan bulan akan digulung pada hari qiyamat”*. (Hadis Bukhari Nomor 2961)

Berdasarkan hadis ini, dengan demikian, bulan juga bernasib sama dengan matahari, yakni sama-sama digulung. Dalam al quran Allah swt menjelaskan sifat dari bulan ketika kiamat yakni:

وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ

*“dan bulan pun telah hilang cahayanya,”* (Al-Qiyamah 75:8)

وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ

*“lalu matahari dan bulan dikumpulkan,”* (Al-Qiyamah 75:9)

Ketika cahaya bulan telah hilang, (patut diingat bahwa bulan menurut kaum bumi datar, punya cahaya sendiri bukan pantulan dari sinar matahari). Kemudian matahari dan bulan dikumpulkan, saat itulah matahari dan bulan sama-sama digulung, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW diatas.

(wallahualam)

Penjuru Langit dan Bumi Tidak Bisa Ditembus

Dalam salah satu surah ar rahman Allah swt menantang pada setiap manusia dan jin, dan kalau perlu mereka saling bekerja sama untuk menembus setiap penjuru langit dan bumi. Itu pun jika mereka mampu. Allah swt berfirman :

يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ إِنِ ٱسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ فَٱنفُذُواۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَٰنٍ

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah). (Ar-Rahman 55:33)

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai pembahasan langit dan bumi tak bisa ditembus, kita akan membahas terlebih dahulu apa itu penjuru langit dan bumi?.

Ada satu hal yang menarik pada ayat di atas sebagaimana dikatakan dalam ayatnya “tembuslah penjuru langit dan bumi”. Istilah penjuru langit tentu tak ada yang mengesankan bagi kita, namun ada satu hal yang menarik disini, Allah swt tidak hanya mengatakan penjuru langit namun juga penjuru bumi.

…..ْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ….
“penjuru langit dan bumi”

Dalam potongan ayat ini Allah swt menggandengkan kata penjuru langit dengan bumi yang disambung dengan “wawu atof” (wawu penyambung) yang dimaknai dengan kata “dan”.

Hal ini mengindikasikan bahwa bukan hanya langit yang memiliki penjuru melainkan bumi juga mempunyai penjuru. Istilah penjuru dalam ayat di atas menggunakan lafadz اقطار berasal dari kata

القطر (ج اقطار)

Yang artinya adalah daerah, lingkungan, atau distrik (silahkan lihat di kamus al munawir edisi kedua hal. 1132).

Bisa juga diartikan sebagai penjuru, sisi atau batas wilayah. Pertanyaannya sekarang adalah adakah penjuru bumi jika buminya bulat?.

Ingat Allah swt bukan hanya mengatakan langit yang mempunyai penjuru tapi bumi pun juga mempunyai penjuru.

Jadi yang ingin saya katakan adalah bisakah konsep bumi bulat menjawab manakah penjuru bumi jika buminya bulat?.

Bukankah kalau buminya bulat tak ada yang namanya penjuru (sudut, pojok). Tentu kaum bumi bulat tak bisa menjawab hal itu.

Berbeda jika buminya datar, bumi datar mempunyai penjuru. Dalam konsep bumi datar buminya berbentuk bundar, seperti koin atau meja bundar, dengan demikian sangat mudah untuk mencari letak sudut lingkarannya.

Berbeda halnya dengan bumi bulat, bumi bulat tak mempunyai sudut karena bentuknya yang bulat. Sudut atau penjuru bisa dikatakan sebagai pojok dan bumi bulat tidak mempunyai pojok.

Misalnya, coba anda cari adakah yang namanya sudut bola?.

Tentu anda tak akan menemukan istilah itu, yang ada hanyalah sudut lingkaran dan lingkaran itu berbentuk bundar, bukan bulat.

Jika sudah bisa dipahami apa yang dimaksud dengan اقطار sekarang kita akan beralih pada persoalan langit dan bumi yang tak bisa ditembus. Mengapa saya mengatakan bahwa penjuru langit dan bumi tak bisa ditembus?. Pehatikan pada potongan ayat yang terakhir:

….لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَٰن…

“kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”

Karena itu, kaum bumi bulat berdalih bahwa teknologi jaman sekarang telah mampu menembus penjuru langit dan bumi dengan kemajuan teknologi yang dimiliki umat manusia.

Tapi tahukah Anda berita tentang manusia pertama, neil amstrong yang mendarat dibulan merupakan sebuah kebohongan. Mengapa kita sebagai umat muslim sangat yakin bahwa orang barat bisa menembus langit dan bumi?.

Apakah karena peralatan teknologi yang dimiliki mereka lebih canggih dari pada peralatan kaum muslimin, sehingga dengan mudahnya kita lebih mempercayai mereka dari pada kitab sucinya sendiri?.

Mengapa kita langsung percaya pada sains mereka dan mengabaikan qur’an yang selama ini kita pegang dan yakini?

Mengapa tidak ada kritik, bukankah ilmu pengetahuan yang asalnya dari manusia kebenarannya adalah tidak mutlak?.

Mengapa sains jaman now, yang mengatakan bahwa penjuru langit dan bumi bisa ditembus, disederajatkan sebagai firman Tuhan yang tak boleh sedikitpun bagi manusia untuk mengkiritisinya, membantahnya atau pun menentangnya?

Bukankah dalam ayat diatas Allah secara tegas telah berfirman bahwa penjuru langit dan bumi tak bisa ditembus kecuali dengan kekuatan-Nya, bukan kekuatan manusia.

Oleh karena itu, untuk menguatkan pendapat konsep bumi bulat, kaum bumi bulatpun berdalih seraya berkata bahwa yang dimaksud “bisulthon” disini adalah “pengetahuan” bukan kekuatan. Jika memang demikian, mari kita buka kamus bahasa arab adakah makna “bisulthon” diartikan sebagai ilmu pengetahuan?. Dalam kamus al munawir edisi kedua hal. 650 dikatakan bahwa

السلطان (ج. سلاطين(

Yang artinya sultan, pemerintahan, kekuasaan, pengaruh, dalil atau hujjah.

Satupun dalam kamus bahasa arab, tak ada yang mengartikan sulthon dengan ilmu pengetahuan kecuali kaum bumi bulat. Apabila mereka masih bersikukuh bahwa memang yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan mengapa Allah tidak berfirman :

..لا تنفذون الابعلم..

“tidak dapat menembusnya kecuali dengan ilmu pengetahuan”

Mengapa Allah tidak menggunakan “ilmu pengetahuan” mengapa menggunakan “bisulthon”?. Allah menggunakan kata “sulthon” dimana kata sulthon juga bisa diartikan sebagai sultan, dimana sultan juga bisa berarti seorang raja yakni penguasa atau pemerintah.

Dengan begitu, itu artinya Allah hendak menunjukkan bahwasanya manusia tidak bisa menembusnya kecuali dengan izin-Nya, dengan wewenang-Nya, dengan kekuatan-Nya, dan juga kuasa-Nya.

Tantangan Allah kepada jemaah jin dan manusia untuk menembus penjuru langit dan bumi dalam surat ar rahman ayat 33 tak ubahnya dengan tantangan-Nya dalam surat :

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۧ وَٱدْعُوا شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Al-Baqarah 2:23)

Allah swt menantang bagi siapapun yang meragukan kebenaran al qur’an untuk membuat al qur’an yang semisalnya. Dan tentu saja tak ada yang bisa membuatnya kecuali dengan kuasa-Nya .

Karena itu, tantangan Allah dalam surat ar rahman ayat 33, juga selaras dengan tantangan Allah dalam surah al baqarah ayat 23 bahwa tak ada yang bisa menembus penjuru langit dan bumi, bahkan NASA sekalipun yang digembar-gemborkan telah mendaratkan manusia di bulan meski pada kenyaataannya itu adalah suatu hal yang tidak benar.

Lalu siapakah yang akan kita percayai sekarang, firman Allah yang termaktub di dalam al quran ataukah klaim mereka yang telah bisa menembus langit dan bumi?.

Pilihan kembali kepada diri kita masing masing, jika iman kita kuat tentunya kita akan lebih mengimani al quran dari pada pernyataan mereka sebagai manusia.

(wallahualam)

By acit

CAHAYA BULAN DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

Bulan memiliki cahayanya sendiri, cahaya bulan bukan berasal dari pantulan matahari. Hal itu sudah termaktub secara jelas di dalam al quran.

Allah SWT menyebut cahaya pada diri bulan dengan lafadz “nur” (نور). Sementara untuk penyebutan sinar pada matahari, Allah tidak menyebutnya dengan kata”nur”. Seperti dalam firmannya:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءً وَٱلْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ‌و مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلْحَقِّۚ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Yunus 10:5)

وَجَعَلَ ٱلْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ ٱلشَّمْسَ سِرَاجًا

“Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)?” (Nuh 71:16)

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

“dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).” (An-Naba’ 78:13)

تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا

“Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (Al-Furqan 25:61)

Untuk lafadz sinar matahari Allah menyebutnya dalam al qur’an dengan dua sebutan yakni ضياء dan سراجا. Sementara untuk bulan Allah SWT tetap menyebutnya dengan sebutan نورا atau منيرا yang sama-sama berasal dari fiil madhi dan masdar نار – نورا.

Berbeda dengan matahari, dimana سراجا dan ضياء mempunyai asal kata yang berbeda. ضياء berasal dari fi’il madhi dan masdar :

ضاء – ضوءا

Sedangkan سراجا berasal dari fi’il madhi dan masdar yaitu :
سرج – سرجا

Lalu apa perbedaan diantara penyebutan pada masing masing bulan dan matahari tersebut?. Adakah perbedaan yang mencolok diantara keduanya?. Apakah benar نور artinya adalah “pantulan cahaya” sebagaimana yang selalu diklaim oleh kaum bumi bulat?.

Apabila kita sejenak melihat kosa kata itu dalam kamus bahasa arab, bagaimana sesungguhnya pengertian lafadz “nur” dalam tulisan arab, maka kita akan menemukan jawabannya.

Lafadz “nur”, “siraajan” dan “dhiyaa-an” pada lafadz yang tertera di dalam qur’an diatas, pada dasarnya mempunyai makna yang sama yakni cahaya.

Hal ini bisa dicek dikamus al munawir “siraajan” artinya lampu atau pelita, “dhiyaa-an” artinya bersinar atau bercahaya, dan “nuuran” artinya cahaya atau sinar. Tak ada perbedaan signifikan diantara kesemuanya.

Dan satu hal yang paling penting yang bisa disampaikan bahwa “nuuran” artinya bukan pantulan melainkan cahaya yang dimiliki oleh bulan itu sendiri.

Yang membuat saya bertanya-tanya sampai hari ini adalah sejak kapan lafadz “nuuran” diartikan pantulan.

Jika memang “nur” diartikan sebagai pantulan lalu bagaimana dengan ayat ini :

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُ‌و ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَٰتٍ لَّا يُبْصِرُونَ

“Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Al-Baqarah 2:17)

Dalam ayat tersebut Allah swt sedang membuat perumpaan terhadap orang yang tersesat dengan perumpaan seperti orang yang menyalakan api yang menerangi sekelilingnya, kemudian Allah melenyapkan cahaya tersebut dengan memadamkan apinya.

Allah swt menyebut api itu sebagai sumber dari cahaya atau “nuuran”. Lalu sejak kapan “nuuran” bisa diartikan sebagai pantulan?. Sungguh penafsiran yang tak bisa dibenarkan. Karena hal itu sangat jelas sekali bertentangan dengan maksud yang Allah sampaikan di dalam al quran.

Jika kita masih belum yakin bahwa bulan mempunyai cahaya sendiri, lalu bagaimana dengan ayat ini:

وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ

“dan bulan pun telah hilang cahayanya,” (Al-Qiyamah 75:8)

Mengapa Allah SWT dalam firmannya mengatakan cahaya bulan akan hilang ketika kiamat itu terjadi. Mengapa Allah tidak mengatakan:

وخشف الشمس

“dan matahari pun telah hilang cahayanya”

Jika memang cahaya itu berasal dari matahari. Mengapa harus bulan yang disebut, mengapa bukan matahari, jika memang benar bulan tidak memiliki cahayanya sendiri.

Apabila kita masih belum yakin tentang hal itu, kita lanjut pada ayat selanjutnya di sana ada penjelasan yang mana Allah berfirman:

وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ

“lalu matahari dan bulan dikumpulkan,” (Al-Qiyamah 75:9)

Kalaupun ayat ini dikatakan sebagai peristiwa gerhana bulan karena dikatakan berkumpul, bukankah matahari dan bulan tidak berkumpul menjadi satu, ketika gerhana bulan itu terjadi?. Yang terjadi justru menurut kaum bumi bulat cahaya bulan terhalangi oleh bumi, bukan matahari.

Apalagi jika dikatakan sebagai gerhana matahari. Bukankah terjadinya gerhana matahari yang menghilang bukanlah cahaya bulan melainkan cahaya mataharinya?.

Kalau memang itu yang kaum bumi bulat maksudkan. Itu artinya setiap kali terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, berarti setiap kali itu pula pristiwa kiamat terjadi.

Tentu bukan hal itu yang dimaksudkan oleh Allah di dalam al qur’an. Mari kita lihat pada ayat yang lain berkaitan dengan sinar matahari.

إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ

“Apabila matahari digulung,” (At-Takwir 81:1)

Ketika matahari digulung menurut beberapa riwayat dikatakan saat itulah sinar matahari menjadi lenyap/hilang. Bahkan, bukan hanya matahari saja yang digulung, bulan pun juga ikut digulung pada waktu itu, yakni hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ الدَّانَاجُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ مُكَوَّرَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Telah bercerita kepada kami [Musaddad] telah bercerita kepada kami [‘Abdul ‘Aziz Al Mukhtar] telah bercerita kepada kami [‘Abdullah Ad Danaj] berkata telah bercerita kepadaku [Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Matahari dan bulan akan digulung pada hari kiamat”.( Hadis Bukhari Nomor 2961)

Berdasarkan penjelasan diatas, maka bisa kita ambil sebuah kesimpulan bahwasanya bulan memiliki cahayanya sendiri, bukan dari pantulan sinar matahari karena “nur” dalam literasi arab manapun bukanlah sebuah pantulan melainkan cahaya yang terpancar dari dirinya sendiri. Itulah makna yang bisa kita ambil dari penjelasan yang Allah sampaikan dalam kitab suci al quran.

(wallahualam)

By acit

YUKAWWIRU : Matahari dan Bulan Mengelilingi Bumi

Judul diatas tentu terdengar lucu, atau bahkan dianggap sebagai sebuah pembodohan yang tidak berdasar khususnya bagi kaum bumi bulat, terutama pada bagian kalimat matahari mengelilingi bumi.

Istilah pembodohan ini yang sering kami dengar ketika membahas permasalahan bumi datar di hadapan kaum bumi bulat. Ada satu ayat yang mungkin mereka akan menangkapnya dengan salah paham yakni :

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّۖ يُكَوِّرُ ٱلَّيْلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيْلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۗ أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّٰرُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutup malam atas siang dan menutup siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun. (Az-Zumar 39:5)

Pada ayat diatas menurut kami ada kesalahpahaman – kalau tidak mau dikatakan sebagai suatu kesalahan – kami mempunyai interpretasi lain terhadap makna يكور. Bagi kami “yukawwiru” bukan diartikan “bulat” melainkan “menggulung atau melilit”, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Hazm,rahimahullah yang mengatakan :

وَهَذَا أوضح بَيَان فِي تكوير بَعْضهَا على بعض مَأْخُوذ من كور الْعِمَامَة

“Ayat ini adalah penjelasan yang paling terang bahwa siang dan malam digulung. Diambil dari kata yang semakna, yaitu: Menggulung sorban, artinya menggulung dengan cara diputar.” [Al-Fashl fil Milal wal Ahwa wan Nihal, 2/78]

Ibnu hazm adalah salah satu ulamak yang menganggap bumi itu bulat yakni ketika menafsirkan az-zumar ayat 5 diatas. Beliau mengambil kesimpulan bahwa “yukawwiru” artinya adalah menggulung layaknya menggulung sorban di atas kepala, dengan cara diputar.

Sesuatu yang digulung pasti ada yang menggulung. Adapun yang menggulung adalah matahari dan bulan, sedangkan yang digulung adalah bumi. Sebagaimana menggulung imamah (sorban di atas kepala), karena kepala itu bentuknya bulat, maka bumi bentuknya juga bulat. Inilah kesimpulan yang mereka dapat dari lafadz yukawwiru bahwa bumi bentuknya bulat karena kepala bentuknya bulat.

Akan tetapi menurut al faqir, ada satu hal yang menjadi kesalahpahaman dikalangan bumi bulat ketika menangkap pernyataan ibnu hazm di atas, mereka berpikir bumi bentuknya bulat karena istilah “yukawwiru” artinya adalah bulat.

Padahal seperti yang dikatakan oleh ibnu hazm sendiri diatas, yukawwiru artinya menggulung layaknya menggulung sorban diatas kepala dengan cara diputar, ibnu hazm tidak mengatakan yukawwiru secara bahasa adalah bulat.

Kalau kita telusuri lebih lanjut lafadz يكور berasal dari fiil madhi كار-كورا atau dari fiil mazid كور yang artinya melilit, (kamus al munawir edisi kedua, halaman 1238)

Sedangkan penggunaan istilah bumi bulat dalam bahasa arab berasal dari lafadz “al kuratu” (jamak kurri wa kuraatun)

الكرة (ج. كري و كرات)

Yang artinya segala benda yang berbentuk bulat seperti bumi dan lain sebagainya, dari fi’il madhi dan masdar، karaa karwan.

كرا – كروا

(Kamus al munawir edisi kedua halaman 1205)

Jadi lafadz “yukawwiru” يكور (menggulung/melilit) bukan berasal dari “kuratun” كرة (bulat). Akan tetapi berasal dari كار- كورا yang artinya menggulung bukan bulat sebagaimana “kuratun” yang berasal dari lafadz asal كار- كروا. Karena ada perbedaan penggunaan bahasa antara كار-كورا dan كار-كروا .

Inilah yang kemudian menjadi sebuah kesalahpahaman ketika menangkap pernyataan ibnu hazm di atas, padahal apa yang mereka nilai tidaklah sesuai dengan lafadz arab yang sebenarnya.

Setelah kita memahami makna lafadz tersebut dari segi bahasa, sekarang kita akan beranjak pada pembahasan benarkah matahari dan bulan mengililingi bumi karena lafadz “yukawwiru”?.

Sebagaimana pada ayat diatas, yakni pada potongan ayat :

….يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ….

“Allah menggulung malam ke dalam siang dan menggulung siang ke dalam malam.” (Az-Zumar: 5)

Sebelum kita menyimpulkan ayat ini kita harus pahami dulu makna dari siang dan malam. Adanya siang disimbolkan oleh matahari sedangkan malam disimbolkan oleh bulan. Sebagaimana pada potongan ayat selanjutnya

…وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۗ…

“dan menundukkan matahari dan bulan, masing masing berjalan menurut waktu yang ditentukan” (Az-Zumar:5)

Perhatikan pada penggalan ayat ini, yang “yajri” (berjalan) apakah bumi atau matahari beserta bulan?.

Sudah jelas dan tegas bahwa ayat tersebut hanya menyebutkan matahari dan bulan yang berjalan, dan berjalannya adalah dengan “yukawwiru” (mengelillingi) bumi. Dan bumi tentu saja tidak berotasi melainkan diam dan tidak bergerak.

Jika masih ragu kita bisa membuka ayat lain yang berkenaan dengan permasalahan tersebut yakni :

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Al-Anbiya 21:33)

لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Ya Sin 36:40)

وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ دَآئِبَيْنِۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ

“Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu.” (Ibrahim 14:33)

ٱللَّهُ ٱلَّذِى رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَاۖ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۚ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.” (Ar-Ra’d 13:2)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, ”Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran). (Al-‘Ankabut 29:61)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Luqman 31:29)

يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۧ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (Fathir 35:13)

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَاۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Ya Sin 36:38)

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّۖ يُكَوِّرُ ٱلَّيْلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيْلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَۖ كُلٌّ يَجْرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّىۗ أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّٰرُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.” (Az-Zumar 39:5)

ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,” (Ar-Rahman 55:5)

Mari kita lihat, adakah ayat diatas yang mengatakan bumi itu beredar dalam garis edarnya?.

Silahkan Anda cari dalam al-quran mulai dari juz pertama sampai juz terakhir, kami pastikan Anda tidak akan menemukan lafadz yang mengatakan bumi bergerak atau berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari.

Semua ayat dalam al quran menyatakan bahwa matahari dan bulanlah yang bergerak dan mengelilingi bumi bukan sebaliknya.

Sekali lagi, al faqir menyarankan bagi Anda khususnya bagi yang mengimani al qur’an sebagai kitab sucinya, Anda amati dan resapi apa yang al-quran katakan. Adakah ayat yang mengatakan bahwa bumi itu bergerak (تجر) ?.

Saya pastikan tidak ada.

Jadi begitulah sebetulnya al-quran menjelaskan pada kita bagaimana fenomena alam ini bekerja sesuai dengan sunnahtullah-Nya seperti yang termaktub dalam al qur’an.

Pada faktanya setelah al faqir mengkaji bumi datar, yakni di saat awal-awal mengenal teori ini, ternyata apa yang tertuang dalam konsep bumi datar, sudah lama dijelaskan di dalam al qur’an, bahwasanya bumi diam dan tidak bergerak.

Adapun pelajaran yang selama ini kita peroleh waktu belajar di sekolah dulu, tentu sangat bertentangan dengan apa yang terangkum di dalam al quran. Al quran menyatakan bahwa bumi diam, dan matahari serta bulanlah yang mengelilingi bumi, bukan bumi yang mengelilingi matahari akan tetapi sebaliknya.

Ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada Anda, bahwa ayat ini (az zumar ayat 5) memang bukan menceritakan soal bentuk bumi apakah bulat atau datar, melainkan menceritakan pada kita tentang kedudukan matahari dan bulan terhadap bumi.

Karena dari asal katanya saja, “yukawwiru” artinya menggulung layaknya menggulung sorban, dengan cara diputar. Jadi bukan bentuk sesuatunya yang dipermasalahkan melainkan pemahaman tentang proses “yukawwiru” nya yang dijelaskan.

(wallahualam)

By acit