Di Hari Kiamat Semua Bintang Jatuh ke Bumi

Sebelum kita membahas judul diatas kita harus pahami terlebih dahulu, apa dan bagaimana bintang itu diceritakan di dalam al quran.

Apabila kita cermati kosa kata al quran, tak ada dan tak akan pernah kita temukan istilah planet, justru yang ada hanya matahari, bulan, dan bintang-bintang, hanya itu.

Bintang bukanlah planet, bintang adalah bintang, matahari adalah matahari, dan bulan adalah bulan.

Setidaknya ada tiga maksud mengapa Allah menciptakan bintang di langit. Adapun maksud dari diciptakannya bintang tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sebagai hiasan di langit, Allah swt berfirman :

إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِزِينَةٍ ٱلْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang terdekat), dengan hiasan bintang-bintang.” (As-Shaffat 37:6

2. Sebagai alat petunjuk arah baik di darat maupun di laut. Allah swt berfirman :

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِۗ قَدْ فَصَّلْنَا ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al-An’am 6:97)

3. Sebagai alat pelempar setan, Allah berfirman :

وَلَقَدْ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَجَعَلْنَٰهَا رُجُومًا لِّلشَّيَٰطِينِۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ

“Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk 67:5)

Berkenaan dengan itu, dalam ayat lain Allah juga berfirman :

إِلَّا مَنْ خَطِفَ ٱلْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ‌و شِهَابٌ ثَاقِبٌ

“kecuali (setan) yang mencuri (pembicaraan); maka ia dikejar oleh bintang yang menyala. (As-Shaffat 37:10)

Begitulah al quran menerangkan pada kita bagaimana sebetulnya bintang itu diciptakan, dan tidaklah Allah menciptakannya dengan sia sia.

Setelah kita ketahui makna bintang , kita akan beralih pada sebuah pertanyaan sederhana bagaimana bintang dapat membuktikan bahwa bumi yang kita pijak adalah bulat atau datar?

Perlu diketahui bersama, konsep bumi datar sangat berkaitan erat dengan peristiwa hari kiamat (eskatologi). Oleh karena itu, pembahasan semacam ini sangat pas untuk mengurai apa sebetulnya rahasia yang ada dibaliknya.

Menurut kaum bumi bulat kiamat akan terjadi apabila antar planet saling bertubrukan dan saling menghantam satu sama lain. Sungguh suatu hal yang sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan dalam al quran.

Karena ini akan menjadi sebuah permasalahan yang sangat serius – jika tak mau dikatakan sebagai sebuah pertentangan antara sains dan al quran – apabila dikaitkan dengan apa yang termaktub di dalam al quran.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Allah dalam firmannya bahwa bintang dihari kiamat akan jatuh ke bumi, Allah swt berfirman :

وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ

“dan apabila bintang-bintang berjatuhan,” (At-Takwir 81:2)

Mayoritas ulama tafsir mengatakan bahwa bintang yang dimaksud ayat ini, adalah bintang yang pada hari kiamat, semuanya akan berjatuhan ke bumi.

Jika bintang lebih besar dari pada bumi, lalu mengapa Allah berfirman bintang di hari kiamat akan jatuh ke bumi, at takwir ayat 2

dari ayat ini bisa kita pastikan bahwa bintang itu ukurannya lebih kecil dari pada bumi. Karena tidak masuk akal apabila bintangnya lebih besar dari pada bumi.

Disisi lain, istilah jatuh berkaitan erat dengan arah atas dan bawah. Padahal kata bumi bulat, diangkasa tidak ada arah atas dan bawah. Lalu mengapa al qur’an menyebut kata jatuh pada bintang?

Suatu hal susah untuk bisa dimengerti jika kita menggunakan pendekatan konsep bumi bulat. Kecuali apabila bintangnya kecil dan buminya datar, maka baru bisa dimengerti. Dan ternyata pendekatan konsep bumi datar, lebih mudah untuk bisa memahami ayat ini. Allah swt berfirman:

وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ

“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, (Al-Infithar 82:2)

Bahkan, bukan hanya jatuh, tapi bintangnya jatuh dalam keadaan berserakan, dan tak mungkin pula bisa sampai berserakan kecuali sudah mencapai lantai dasar, dan lantai dasar itu adalah bumi yang datar. Maka saat itulah cahayanya menjadi pudar dan lagi tak lagi bersinar. Allah SWT berfirman :

فَإِذَا ٱلنُّجُومُ طُمِسَتْ

“Maka apabila bintang-bintang dihapuskan,” (Al-Mursalat 77:8)

Apabila kaum bumi bulat masih bersikukuh dengan konsep bumi bulatnya. Lalu bagaimana cara mereka menjelaskan secara gamblang tentang ayat bintang jatuh ini. Sungguh al faqir sangat penasaran dengan pemaparan mereka jika dijelaskan dan dibenturkan dengan apa yang telah Allah firmankan dalam kitab suci Al-qur’an. Maha benar Allah dengan segala firmannya.

(wallahualam)

By acit

Malaikat Jibril Mengajarkan Teori Bumi Datar (Tujuh Lapis Bumi)

Ada satu hadis dalam tafsir ibnu katsir, yang mungkin jarang sekali orang mengetahuinya.

Dalam hadis ini malaikat jibril menanyakan pada Nabi tentang apa saja yang terkandung dalam 7 lapisan bumi.

Setidaknya ada empat hal yang ditanyakan malaikat Jibril pada Nabi Muhammad SAW yakni :

1⃣ Apa seorang Nabi tidur?

2⃣ Mengapa anak itu mirip ayahnya dan terkadang mirip ibunya?

3⃣ Apa saja yang diciptakan dari air mani laki-laki dan air mani perempuan?

4⃣ Apa yang ada dibawah tanah dari lapis bumi pertama sampai lapis bumi ke tujuh?

Adapun teks hadisnya secara lengkap adalaj sebagai berikut:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْهَرَوِيُّ، عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ الْفَضْلِ [قَالَ] : قُلْتُ: ابْنُ الْفَضْلِ الْأَنْصَارِيُّ؟ قَالَ: نَعَمْ، [عَنِ الْقَاسِمِ] بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَأَقْبَلْنَا رَاجِعِينَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، فَنَحْنُ مُتَفَرِّقُونَ بَيْنَ وَاحِدٍ وَاثْنَيْنِ، مُنْتَشِرِينَ، قَالَ: وَكُنْتُ فِي أَوَّلِ الْعَسْكَرِ: إِذْ عَارَضَنَا رَجُلٌ فَسَلّم ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟ وَمَضَى أَصْحَابِي وَوَقَفْتُ مَعَهُ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قد أَقْبَلَ فِي وَسَطِ العَسْكَر عَلَى جَمَلٍ أَحْمَرَ، مُقَنَّع بِثَوْبِهِ عَلَى رَأْسِهِ مِنَ الشَّمْسِ، فَقُلْتُ: أَيُّهَا السَّائِلُ، هَذَا رَسُولُ اللَّهِ قَدْ أَتَاكَ. فَقَالَ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقُلْتُ: صَاحِبُ البَكْر الْأَحْمَرِ. فَدَنَا مِنْهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِ رَاحِلَتِهُ، فَكَفَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقال: أَنْتَ مُحَمَّدٌ؟ قَالَ: “نَعَمْ”. قَالَ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْ خِصَالٍ، لَا يَعْلَمُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا رَجُلٌ أَوْ رَجُلَانِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “سَلْ عَمَّا شِئْتَ”. فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَيَنَامُ النَّبِيُّ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ”. قَالَ: صَدَقْتَ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مِنْ أَيْنَ يُشْبِهُ الْوَلَدُ أَبَاهُ وَأُمَّهُ؟ قَالَ مَاءَ الرَّجُلِ أَبْيَضُ غَلِيظٌ، وَمَاءُ الْمَرْأَةِ أَصْفَرُ رَقِيقٌ، فَأَيُّ الْمَاءَيْنِ غَلَبَ عَلَى الْآخَرِ نَزَعَ الْوَلَدُ”. فَقَالَ صَدَقْتَ. فَقَالَ: مَا لِلرَّجُلِ مِنَ الْوَلَدِ وَمَا لِلْمَرْأَةِ مِنْهُ؟ فَقَالَ: “لِلرَّجُلِ الْعِظَامُ وَالْعُرُوقُ وَالْعَصَبُ، وَلِلْمَرْأَةِ اللَّحْمُ وَالدَّمُ وَالشَّعْرُ قَالَ: صَدَقْتَ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا تَحْتَ هَذِهِ، يَعْنِي الْأَرْضَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “خَلْقٌ”. فَقَالَ: فَمَا تَحْتَهُمْ؟ قَالَ: “أَرْضٌ”. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الْأَرْضِ؟ قَالَ “الْمَاءُ” قَالَ: فَمَا تَحْتَ الْمَاءِ؟ قَالَ: “ظُلْمَةٌ”. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الظُّلْمَةِ؟ قَالَ: “الْهَوَاءُ”. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الْهَوَاءِ؟ قَالَ: “الثَّرَى”. قَالَ: فَمَا تَحْتَ الثَّرَى؟ فَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبُكَاءِ، وَقَالَ: “انْقَطَعَ عِلْمُ الْمَخْلُوقِينَ عِنْدَ عِلْمِ الْخَالِقِ، أَيُّهَا السَّائِلُ، مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ”. قَالَ: فَقَالَ: صَدَقْتَ، أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَيُّهَا النَّاسُ، هَلْ تَدْرُونَ مَنْ هَذَا؟ ” قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “هَذَا جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan di dalam kitab Musnad-nya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Harawi, dari Al-Abbas ibnul Fadl. Abu Ya’la bertanya, “Apakah dia adalah Ibnul Fadl Al-Ansari?” Abu Musa Al-Harawi menjawab, “Ya.” Dia meriwayatkan dari Al-Qasim yang mengatakan bahwa ia pernah bersama Rasulullah Saw. dalam perang Tabuk. Ketika kaum muslim yang terlibat dalam perang tabuk itu pulang di hari yang panas sekali, dan kaum muslim berjalan secara berpencar. Perawi saat itu berada di bagian paling depan dari pasukan kaum muslim. Tiba-tiba ada seorang lelaki berpapasan dengan kami,

lalu lelaki itu bertanya, “Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”

Teman-temanku meneruskan perjalanannya, sedangkan aku berhenti meladeni lelaki itu. Tiba-tiba Rasulullah Saw. muncul di tengah pasukan kaum muslim dengan mengendarai unta merah seraya menutupi kepalanya dari sengatan panas matahari yang terik.

Lalu saya berkata kepada lelaki itu, “Hai kamu yang bertanya, inilah Rasulullah Saw. telah tiba menuju ke arahmu!”

Lelaki itu bertanya, “Siapakah dia di antara mereka?”

Aku menjawab, “orang yang mengendarai unta merah.”

Lelaki itu mendekatinya dan memegang tali kendali untanya. Maka unta yang dikendarai oleh Nabi Saw. berhenti, dan lelaki itu bertanya,

“Engkaukah yang bernama Muhammad?”

Nabi Saw. menjawab, “Ya.”

Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku hendak bertanya kepadamu tentang beberapa perkara yang tiada seorang pun dari kalangan penduduk bumi mengetahuinya kecuali hanya seorang atau dua orang saja.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Tanyakanlah apa yang kamu kehendaki!”

Lelaki itu berkata, “Hai Muhammad, apakah seorang nabi tidur?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Kedua matanya tidur, tetapi hatinya tidak tidur.”

Si lelaki berkata, “Engkau benar.” Kemudian lelaki itu bertanya, “Hai Muhammad, mengapa anak itu mirip ayahnya dan (adakalanya) mirip ibunya?”

Rasulullah Saw. menjawab: Air mani lelaki putih lagi kental, sedangkan air mani wanita kuning lagi encer. Maka mana saja di antara kedua air mani itu yang mengalahkan lainnya, anak tersebut akan lebih mirip kepadanya.

Lelaki itu berkata, “Engkau benar.”

Lalu ia bertanya, “Apa sajakah yang di­ciptakan dari air mani lelaki dan air mani perempuan dalam tubuh anaknya?”

Maka Rasulullah Saw. bersabda: Air mani laki-laki membentuk tulang dan urat-urat serta otot-otot, sedangkan air mani wanita membentuk daging, darah, dan rambut.

Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kemudian lelaki itu bertanya, “Hai Muhammad, apakah yang ada di bawah tanah ini?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Makhluk.” Lelaki itu bertanya, Di bawah mereka itu ada apa?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Bumi.” Lelaki itu bertanya, “Apakah yang ada di bawah bumi itu?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Air.”

Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah air itu?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Kegelapan.”

Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah kegelapan itu?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Udara.”

Ia bertanya, “Apakah yang ada di bawah udara itu?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Bumi.”

Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah bumi itu?”

Rasulullah Saw. menangis dan bersabda, “Hanya sampai di situlah pengetahuan makhluk bila dibanding­kan dengan pengetahuan Pencipta. Hai orang yang bertanya, tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.

” Lelaki itu berkata, “Engkau benar, saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Hai manusia, tahukah kalian siapakah orang ini?”

Mereka menjawab,” Hanya Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.”

Rasulullah Saw. bersabda,”Orang ini adalah Jibril a.s.

Wallahualam

By acit

Memahami Surah Al-Ma’arij Ayat 40

Dalam surah ar rahman ayat 17 sebelumnya, telah penulis simpulkan bahwa dua timur berkaitan dengan satu timur untuk tebitnya matahari dan satu timur untuk terbitnya bulan.

Sedangkan dua barat berkaitan dengan satu barat untuk terbenamnya matahari dan satu barat untuk terbenamnya bulan.

Karena itu dalam surah tersebut Allah menyebutnya dengan lafadz مشرقين dan مغربين. Namun dalam surah al ma’arij ayat 40 Allah menggunakan lafadz yang lain, sebagaimana dalam firmannya :

Al-Ma’arij 70:40

فَلَآ أُقْسِمُ بِرَبِّ ٱلْمَشَٰرِقِ وَٱلْمَغَٰرِبِ إِنَّا لَقَٰدِرُونَ

“Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya sungguh, Kami pasti mampu.”

Lafadz dalam ayat ini menggunakan isim jama’ (lebih dari dua) yang artinya banyak timur (مشارق) dan banyak barat (مغارب).

Ini mengindikasikan bahwa yang terbit dan terbenam bukan hanya matahari dan bulan, seperti dalam surah ar rahman ayat 17, melainkan ada sesuatu yang lain, apalagi kalau bukan bintang-bintang yang tidak terhitung banyaknya. Karena itu, berkata imam jalalain dalam tafsirnya:

‫070 ﺳﻮﺭﺓ اﻟﻤﻌﺎﺭﺝ

(ﻓﻼ) ﻻ ﺯاﺋﺩﺓ (ﺃﻗﺴﻢ ﺑﺮﺏ اﻟﻤﺸﺎﺭﻕ ﻭاﻟﻤﻐﺎﺭﺏ) ﻟﻠﺸﻤﺲ ﻭاﻟﻘﻤﺮ ﻭﺳﺎﺋﺭ اﻟﮑﻮاﮐﺐ (ﺇﻧﺎ ﻟﻘﺎﺩﺭﻭﻥ)

040. (Maka) huruf laa di sini adalah huruf zaidah (Aku bersumpah dengan nama Rabb yang memiliki arah timur dan arah barat) yang memiliki matahari, bulan dan bintang-bintang lainnya (sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.)

Berdasarkan ulasan ini, maka bisa kita katakan bahwa yang terbit dan terbenam, bukan hanya terjadi pada matahari melainkan juga terjadi pada bulan dan bintang-bintang yang ada di alam semesta.

Karena itu, menurut penulis kurang pas kiranya jika mufassir di surah ar rahman ayat 17 hanya mengatakan bahwa yang terbit dan terbenam hanya berlaku pada matahari saja.

Wallahualam

By acit

Memahami Surah Yasin Ayat 38

Selama ini kita meyakini bahwa bukanlah matahari yang mengelilingi bumi, melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Mataharinya diam, dan buminya yang berjalan.

Namun akan menjadi soal yang cukup serius, apabila kita membenturkan pemahaman itu denga ayat di bawah ini, Allah SWT berfirman dalam surah:

Ya Sin 36:38

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَاۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.

Allah tidak mengatakan dalam ayat tersebut bahwa yang berjalan (تجر) adalah bumi akan tetapi matahari yang berjalan (تجر) sekaligus yang memiliki garis edarnya (لمستقر لها).

Pertanyaannya sekarang adalah pemahaman siapa yang paling benar?.

Manusia ataukah firman Tuhan?

Kalaupun kita tetap angkuh dengan mengatakan buminya yang bergerak (تجر) dan mataharinya yang diam.

Lalu bagaimana cara kita memahami ayat diatas?.

Apakah kita akan menilainya sebagai ayat mutasyabihat?

Hanya karena susah untuk dimengerti dan dianggap bertentangan dengan teori jaman modern saat ini?

Apa sebetulnya ayat mutasyabihat itu?.

Apakah keseluruhan ayat yang belum bisa kita pahami, lantas kita nilai sebagai ayat mutasyabihat semua?

Apakah begitu cara kita menilai ayat-ayat Tuhan?

Ketika Allah mengatakan bahwa yang berjalan dan yang mempunyai garis edar adalah matahari bukan bumi, kemudian kita nilai ayat ini mutasyabihat, hanya karena berbeda dengan pemahaman kita sebagai manusia.

Apakah begitu cara kita berpikir dan menilai ayat Tuhan?

Anggap saja, sekarang kita semua sepakat bahwa surah yasin ayat 38 adalah ayat mutasybihat. Lalu sekarang permasalahannya adalah ayat mana yang mendukung bahwa bumi itu berjalan (تجر) dan mempunyai garis edarnya sendiri (لمستقزلها)?

Apabila anda menemukan surah dan ayat yang mendukung terhadap teori tersebut, mohon berkenan kiranya saudara untuk menyampaikannya pada al faqir. Selama Anda belum menemukan jawaban tersebut, maka selama itu al faqir akan tetap meyakini bahwa bumi diam dan matahari yang berjalan.

Wallahualam

By acit

Memahami Surah Ar-Rahman Ayat 17

Sebelumnya saya menyadari bahwa al faqir bukanlah seorang yang layak dan pantas disebut sebagai mujtahid. Namun sebagai seorang hamba yang beriman sudah sepantasnya untuk selalu bertafakkur dan merenungi kandungan ayat dalam al quran. Dalam surah ar rahman Allah SWT berfirman :

Ar-Rahman 55:17

رَبُّ ٱلْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ ٱلْمَغْرِبَيْنِ

Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat.

Hampir semua kalangan mufassir sepakat memahami dua timur dan dua barat sebagai kedua tempat terbitnya matahari, yakni satu timur untuk matahari di musim panas dan satu timur untuk matahari di musim dingin, dan kedua tempat terbenamnya matahari yakni satu barat untuk matahari di musim panas dan satu barat untuk matahari di musim dingin. Seperti yang dijelaskan dalam tafsir jalalain:

‫055 ﺳﻮﺭﺓ اﻟﺮﺣﻤﻦ

(ﺭﺏ اﻟﻤﺸﺮﻗﻴﻦ) ﻣﺸﺮﻕ اﻟﺸﺘﺎء ﻭﻣﺸﺮﻕ اﻟﺼﻴﻒ (ﻭﺭﺏ اﻟﻤﻐﺮﺑﻴﻦ) ﮐﺬﻟﮏ

017. (Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari) yaitu tempat terbitnya di waktu musim dingin dan tempat terbitnya di waktu musim panas (dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya) penafsirannya seperti pada yang pertama tadi.

Akan tetapi saya mempunyai pandangan berbeda terhadap ayat diatas. Bahwasanya “Tuhan (yang memelihara) dua timur” yang dimaksud adalah satu timur untuk tempat terbitnya matahari dan satu timur untuk terbitnya bulan, sehingga apabila ditotal maka ada dua timur.

Sedangkan “Tuhan (yang memelihara) dua barat” yang dimaksud adalah satu barat untuk terbenamnya matahari dan satu barat untuk terbenamnya bulan, sehingga apabila ditotal maka ada dua barat.

Jadi menurut pandangan al faqir, “Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat” bukan berkenaan dengan tempat terbit-terbenamnya matahari dimusim panas dan musim dingin, melainkan dua timur (مشرقين) untuk masing-masing matahari dan bulan, dan dua barat (مغربين) untuk masing masing-masing matahari dan bulan.

Wallahualam

By acit